Create your blog and photo album with postbit
Create your blog and photo album

Create new post

Content:

Upload a picture:
Tags (keywords separated by comma)

Save Cancel
niebuhr46pilegaard:   Followers: 0 ; Following: 0


Arti Aqiqah Merujuk Kepercayaan Islam



Pikir bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, karena dipotongnya leher binatang beserta penyembelihan ini. Ada yang mengatakan kalau aqiqah ialah nama untuk hewan yang disembelih, disebut demikian sebab lehernya dipotong Ada pun yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serat yang tersembunyi pada penyelenggara si momongan ketika ia keluar daripada rahim ibu, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah merupakan penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, ataupun 21. Jumlahnya 2 sudut untuk momongan laki-laki & 1 kontrol untuk budak perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Dari Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak momongan tergadaikan beserta aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang serupa dan budak perempuan mono kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya di dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Mulai Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh menitahkan: “Aqiqah dilaksanakan karena kemunculan bayi, dipastikan sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua seloroh darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Mulai ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, mulai kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi jadi hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang serupa dan untuk perempuan satu kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW tahu ber ‘aqiqah untuk Patut dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, beliau memberi nama dan menyabdakan supaya dihilangkan kotoran atas kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, dalam AI-Mustadrak bagian 4, hal. 264]

Pemberitahuan: Hasan dan Husain merupakan cucu Rasulullah SAW.

Mulai Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Laksmi, dia mengatakan: Rasulullah bertitah: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Dari Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih dalam hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua persepuluhan satunya. (HR Baihaqi serta Thabrani).

Pedoman Aqiqah Keturunan adalah sunnah (muakkad) cocok pendapat Imam Malik, warga Madinah, Kepala Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan paling banyak ulama ulung fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sambil kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah ialah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya saat hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan bersihkan darinya buangan (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Perkataan: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah titah, namun tak bersifat tetap, karena ada sabdanya yang memalingkan mulai kewajiban adalah: “Barangsiapa di antara kalian siap yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, dipastikan silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Debu Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan pendapat yang memutar perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Malik berkata: Aqiqah itu laksana layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh pada aqiqah berikut hewan yang picak, mersik, patah tulang, dan sakit. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam hewan aqiqah ini cacat-cacat yang bukan diperbolehkan di qurban.

Buraidah berkata: Lalu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan menggores kepalanya dengan darah kambing itu. Oleh karena itu setelah Allah mendatangkan Islam, kami menggorok kambing, menjatuhkan (menggundul) oknum si budak dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Serbuk Dawud bab 3, hal. 107]

Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang dalam masa jahiliyah apabila meronce ber’aqiqah untuk seorang budak, mereka melumangkan kapas secara darah ‘aqiqah, lalu begitu mencukur rambut si momongan mereka mencolekkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bertitah, “Gantilah darah itu secara minyak wangi”.[HR. Putra Hibban secara tartib Pelerai demam Balban surah 12, hal. 124]

Kegiatan aqiqah dari segi kesepakatan karet ulama merupakan hari ketujuh dari kelahiran. Hal itu berdasarkan hadits Samirah di mana Rasul SAW berkata, “Seorang bujang terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh serta diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Dan jika tidak juga, maka saat hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Imam Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) buat dasar imbauan, maka sekiranya menyembelih di hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah sedang. Karena pijakan ajaran Agama islam adalah mempermudah bukan menyusahkan sebagaimana firman Allah SWT: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan gak menghendaki kegaduhan bagimu”. (QS. harga aqiqah bandung Al Baqarah: 185)

Pelaksanaan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini menurut sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, serta diberi sebutan. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Dan bila tidak dapat melaksanakannya di hari ketujuh, maka dapat dilaksanakan saat hari ke empat belas kasihan, dan jikalau tidak sanggup, maka di hari di dua puluh satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Rumpun Buraidah dari ayahnya dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah ini disembelih pada hari ketujuh, ke empat belas, & ke dua puluh wahid. ” (Hadits hasan sejarah Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga minggu masih gak mampu oleh karena itu kapan sekadar pelaksanaannya di kala sudah mampu, sebab pelaksanaan dalam hari-hari di tujuh, ke empat belas dan ke dua puluh satu adalah sifatnya sunnah dan paling utama meski wajib. & boleh juga melaksanakannya sebelum hari di tujuh.

Momongan yang tenang dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pula untuk disembelihkan aqiqahnya, terlebih meskipun bocah yang miskram[cak] dengan ukuran sudah berusia empat bulan di dalam lembaga ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada ayah si bocah. Namun jikalau seseorang yang belum dalam sembelihkan hewan aqiqah sama orang tuanya hingga ia besar, dipastikan dia mampu menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan jikalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri maka hal ini tidak apa-apa menurut abdi, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan dalam hari ketujuh dari kelahiran. Jika tidak bisa, oleh sebab itu pada hari keempat belas. Dan jika tidak bisa juga, maka saat hari kedua puluh wahid. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi beban ayah.

Akan tetapi demikian, apabila ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia siap melakukan aqiqah sendiri pada saat dewasa. Satu ketika al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah saat besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad menjawab, “Menurutku, bahwa ia belum diaqiqahi begitu kecil, dipastikan lebih elok melakukannya sendiri saat mantap. Aku gak menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga berpendapat demikian. Menurut mereka, anak-anak yang sudah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Nominal Hewan

Total hewan aqiqah minimal ialah satu ekor baik untuk laki-laki ataupun pun untuk perempuan, sesuai perkataan Pelerai demam Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain mono domba tunggal domba. ” (Hadits shahih riwayat Duli Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Aku harus tegak bahwa Hasan dan Husain adalah keturunan kembar. Jadi pada mono kelahiran ini disembelih dua ekor kibas.

Namun yang lebih tertinggi adalah dua ekor untuk anak laki-laki dan 1 upaya untuk budak perempuan menurut hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan agar dsembelihkan aqiqah atas anak laki-laki 2 ekor domba dan mulai anak dara satu ekor. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad & Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang memiliki arti: “Nabi SAW memerintahkan tersebut agar disembelihkan aqiqah atas anak laki-laki 2 ekor kambing yang seimbang dan atas anak cewek satu sudut. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan beserta ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang anak

1. Disunnatkan untuk meluluskan nama dan mencukur serabut (menggundul) saat hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir di dalam hari Ahad, ‘aqiqahnya lewat pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kambing sedang bagi anak cewek 1 sudut.

3. ‘Aqiqah ini paling utama dibebankan menurut orang tua si anak, tapi boleh pun dilakukan oleh keluarga lainnya (kakek & sebagainya).

4. Aqiqah berikut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Baik Mentah / Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan di kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kibas untuk bani dan satu ekor kambing untuk bujang perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah dikasih kepada tetangga dan miskin miskin juga bisa dikasih kepada sosok non-muslim. Malahan jika sesuatu itu dimaksudkan untuk memikat simpatinya & dalam rajah dakwah. Dalilnya adalah nasihat Allah, “Mereka memberi mencopet orang miskin, anak yatim, dan tawanan, dengan prinsip senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada tatkala itu merupakan orang-orang ridah. Namun demikian, keluarga juga boleh membersihkan sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Pada masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah wedus, tanpa menjamu apakah nyali besar atau puan, sebagaimana riwayat di bawah ini:

Mulai Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia sudah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka petuah beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor wedus dan untuk anak perempuan satu sudut kambing. Bukan menyusahkanmu bagus kambing itu jantan maupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, pada Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum mendapatkan dalil lainnya yang menunjukkan adanya binatang selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Ruang yang dituntunkan oleh Nabi SAW berdasarkan dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 dari kelahiran bujang tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian ketuat Aqiqah

Adapun dagingnya maka dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, & mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjumput kerabat & tetangga untuk menyantap persembahan daging aqiqah yang sudah biasa matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga sedang kepada kaum muslimin, dan larat mengundang teman2 dan nenek untuk menyantapnya, atau larat juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Putra Bazz mengatakan: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya / sebagiannya dan memasaknya kemudian mengundang orang yang tuan lihat layak diundang dari kalangan macam, tetangga, sohib2 seiman serta sebagian orang2 faqir untuk menyantapnya, dan hal serupa dikatakan sambil Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi bahwa ada siratan antara makna sebuah sebutan dengan yang diberi identitas. Hal tersebut ditunjukan beserta adanya sekitar nash syari yang menyarankan hal ini.

Dari Bubuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Tuhan mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang mengindahkan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam sebutan berkaitan dengannya sehingga seakan-akan makna-makna ini diambil darinya dan seumpama nama-nama itu diambil atas makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui imbas nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah itu:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Hamba datang mendapatkan Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku menjawab: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Pelerai demam Al-Musayyib berkata: “Orang itu senantiasa bersikap keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang cantik untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban wali. Di antara nama-nama yang baik yang menarik diberikan adalah nama rasul penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana petuah beliau: Dari Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau memakai kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik menurut ajaran Islam, silahkan kumpulan:

Memberi Sebutan Bayi / Anak Secara Islami


Memotong Rambut

Mencukur rambut ialah anjuran Rasul yang amat baik untuk dilaksanakan ketika anak yang baru wujud pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terpukau dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi seri, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menerangkan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Rancak dan Husein lalu beliau menyedekahkan argentum seberat rambut tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau tidak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut mesti dilakukan beserta rata; bukan boleh seharga mencukur beberapa kepala dan sebagian yang lain dibiarkan. Tentu saja semakin banyak serabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- tambah besar lagi sedekahnya.

Rayuan Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Berarti: Dengan sebutan Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta mulai ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa balita baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Berarti: Aku berlindung untuk bujang ini beserta kalimat Yang mahakuasa Yang Tertib dari seluruh gangguan syaitan dan seloroh binatang bersama gangguan sorotan mata yang dapat menjinjing akibat leta bagi apa-apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari segi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di sebuah situs mempunyai beberapa pelajaran diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di meneladani Nabiyyullah Ibrahim AMERIKA SERIKAT tatkala Yang mahakuasa SWT menerima putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Pada aqiqah berikut mengandung unsur perlindungan dari syaitan yang dapat mengganggu anak yang terlahir itu, dan berikut sesuai secara makna hadits, yang mempunyai: “Setiap bujang itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Maka itu Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih tersembunyi dari seloroh syaithan yang sering meniadakan anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud sebab Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sambil aqiqahnya”.

3. Aqiqah merupakan tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak pada hari perkiraan. Sebagaimana Kepala Ahmad menyebarkan: “Dia tergadai dari memberikan Syafaat bagi kedua orang2 tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan wujud taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus guna wujud merasai syukur buat karunia yang dianugerahkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya si anak.

5. Aqiqah serupa sarana menimbulkan rasa rewel dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang bakal memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkukuh ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.

Dan tetap banyak sedang hikmah yang terkandung di pelaksanaan Syariat Aqiqah berikut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Bubuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Butala al-Bustoni, secara judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Post by niebuhr46pilegaard (2017-01-19 20:50)

Post your comment:

Name: Email: Site:


| Explore users | New posts | Create your blog | Create your photo album |
| About Postbit | Our blog | Terms of use | Contact Postbit |


Copyright © 2017 - postbit.com